Gus Dur Ubah Istana Presiden Seperti Pesantren karena Banyak Kiai Sering Berkunjung

Sejarah  

Ketika menjadi wartawan Antara, saya pernah bertugas di istana selama sembilan tahun (1969-1978). Ada yang menjuluki kami sebagai wartawan keraton atau wartawan kerajaan. Kalau sekarang ini Andi Malarangeng yang menjadi jubir presiden, saat itu jubirnya Widya Latief yang juga bertindak sebagai penterjamah Pak Harto.

Pensiunan perwira tinggi TNI-AD ini pernah memarahi saya. Ia menilai berita rencana kunjungan Pak Harto ke Pulau Batam yang saya muat bisa membahayakan keselamatan rombongan presiden.

BACA JUGA: Asal Usul dan Arti Gelar Buya, Gelar yang Disematkan untuk Alim Ulama Seperti Buya Syafii Maarif

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Karena memuat tanggal, jam keberangkatan, dan kapal laut yang mengangkut rombongan dari Tanjung Pinang ke Batam. Widya Latief khawatir terjadi sabotase. Maklum, hubungan RI dan RRC kala itu sangat buruk setelah peristiwa G30S.

Sementara awal 1970-an, suasana anti Singapura memanas di tanah air, setelah negeri pulau ini menggantung dua anggota KKO (kini marinir) yang ditawan sejak masa konfrontasi. Saat itu rencana pembangunan Batam yang berdekatan dengan Singapura dimaksudkan agar RI tidak lagi bergantung kepada negeri pulau ini.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Seperti Cinta, Kisah Sejarah Juga Perlu Diceritakan

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image