Jembatan Keramat di Kramat Kwitang, Trem Uap di Pasar Senen

Sejarah  

Pasar Senen bersama Pasar Tanah Abang merupakan pasar tertua di Jakarta. Keduanya dibangun oleh Justinus Vinck, petinggi VOC yang memiliki tanah bejiibun di Weltevreden pada 175. Di Senen, Vinck membuka pasar yang terletak disudut bagian selatan dari tanah miliknya yang terletak di sebelah barat dari Groote Zyider Wet yang sekarang menjadi Jl Pasar Senen.

Pada saat bersamaan, ia juga membangun Pasar Tanah Abang. Waktu itu, antara kedua pasar ini dihubungkan dengan sungai. Dua tahun setelah kedua pasar diresmikan, untuk mempelancar arus barang kedua pusat perbelanjaan ini, Vinck membuka jalan dan jembatan (Jembatan Kramat) yang menghubungkan kedua pasarnya.

BACA JUGA: Demi Pasar Modern, Bangunan-Bangunan Bersejarah di Pasar Senen Dihancurkan

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Jalan ini melewati Kampung Lima (sekitar Jakarta Theater dan Sarinah), Jembatan Parapatan sampai simpang Senen-Kramat. Inilah jalan pertama yang menghubungkan timur dan barat Batavia. Pasar Senen, pada 1749 mulai berkembang setelah digalinya sebuah terusan Kali Lio dari Grote Rivier (Kali Ciliwung). Terusan ini mengalir sepanjang kali Gunung Sahari-Anco-Tanjung Priok.

Seorang soldadu Belanda ketika pertama kali datang ke Batavia awal abad ke-20, menulis kesan-kesannya tentang Pasar Senen. ”Daerah ini cukup ramai. Letaknya tidak jauh dari tangsi (di dekat RSPAD Gatot Subroto). Di sisi kiri dan kanan jalan ditanami pepohonan. Pada salah satu sisinya terdapat vila-vila indah bercat putih kekuningan dengan teras terbuka, yang merupakan perumahan perwira berpangkat tinggi.”

BACA JUGA: Sejarah Hari Pramuka, Gerakan Kepanduan yang Dibentuk Raja Yogyakarta

Pada abad ke-18, gubernur jenderal Van der Parra membangun sebuah tempat peristirahatan di Senen, yang kini menjadi RSPAD Gatot Subroto. Pada masa Belanda RSPAD bernama Groot Militar Hospitaal sedangkan Jl dr Abdurahman Saleh tempat RS ini berada bernama Hospitaalweg).

BACA BERITA MENARIK LAINNYA:
> Humor NU: Orang Muhammadiyah Ikut Tahlilan Tapi Gak Bawa Pulang Berkat, Diledek Makan di Tempat Saja

> Bolehkah Makan Nasi Berkat dari Acara Tahlilan? Halal Bisa Jadi Haram

> Banyak Pria Jakarta Sakit Raja Singa Gara-Gara Wisata "Petik Mangga"

> Kata Siapa Muhammadiyah tidak Punya Habib, KH Ahmad Dahlan Itu Keturunan Rasulullah

> Pak AR Salah Masuk Masjid, Diundang Ceramah Muhammadiyah Malah Jadi Imam Tarawih di Masjid NU

> Humor Gus Dur: Yang Bilang NU dan Muhammadiyah Berjauhan Hanya Cari Perkara, Yang Dipelajari Sama

> Humor Cak Nun: Soal Rokok Muhammadiyah Terbelah Jadi Dua Mahzab

> Humor Ramadhan: Puasa Ikut NU yang Belakangan, Lebaran Ikut Muhammadiyah yang Duluan

> Muhammadiyah Tarawih 11 Rakaat, Pakai Formasi 4-4-3 atau 2-2-2-2-2-1?

.

Ikuti informasi penting seputar berita terkini, cerita mitos dan legenda, sejarah dan budaya, hingga cerita humor dari KURUSETRA. Kirim saran dan kritik Anda ke email kami: kurusetra.republika@gmail.com. Jangan lupa follow juga Youtube, Instagram, Twitter, dan Facebook KURUSETRA.

Berita Terkait

Image

Kereta Nyebur ke Sawah karena Tubruk Kerbau di Ancol, Ulah Si Manis?

Image

Sejarah Oplet Antik Si Doel yang Harganya Tembus Rp 15 Miliar

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image