Hikayat Kemang, Dulu Wilayah Perkebunan Kini Jadi Musuhnya Air Hujan

Sejarah  
Kemang Banjir. Wilayah Kemang yang dulunya adalah daerah perkebunan dan daerah resapan air, kini berubah fungsi menjadi bangunan yang menyebabkan sering terjadinya banjir. Foto: Republika.
Kemang Banjir. Wilayah Kemang yang dulunya adalah daerah perkebunan dan daerah resapan air, kini berubah fungsi menjadi bangunan yang menyebabkan sering terjadinya banjir. Foto: Republika.

KURUSETRA -- Jakarta pada Selasa (4/10/2022) diguyur hujan deras. Akibatnya sejumlah wilayah mengalami banjir, termasuk wilayah Kemang. Kemang yang dulunya adalah rumahnya air kini menjadi langganan banjir karena sudah dipadati bangunan. Tak ada lagi resapan air.

Tujuh dekade lalu atau sekitar 1950-an, Kemang hanyalah sebuah kampung di Kelurahan Bangka. Kampung ini masih berupa wilayah perkebunan. Nama Kemang berasal dari pohon buah kemang (Mangifera kemanga), sejenis mangga yang banyak ditemukan di daerah ini.

BACA JUGA: Istana Negara Kebanjiran Tahun 1932

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Kemang awalnya adalah perkampungan Betawi. Di sana rumah-rumahnya masih berdinding bilik bambu dan beratap rumbia. Di kampung itu juga terdapat sebuah masjid dengan gaya tradisional Jawa. Pada tahun 1970-an kawasan ini berisi rumah yang terbuat dari kayu dengan penghuninya hidup dari bertani dan berkebun.

Pada akhir tahun 1970-an, pembangunan semakin kencang dengan adanya perpindahan penduduk dari Jakarta Pusat ke Jakarta Selatan hasil dari pelaksanaan Inpres Nomor 13 tahun 1976 tentang pengembangan wilayah Jabotabek. Kemang mulai dikenal sebagai kawasan pemukiman mewah sejak tahun 1980-an, dan juga sebagai komunitas ekspatriat dikarena banyaknya penyewaan rumah kepada warga asing.

BACA JUGA: Gus Dur Ditanya Apa Makanan Paling Haram? Babi Mengandung Babi Tapi Gak Tahu Bapaknya Jadi Sate Babi

Di awal 1990-an, sebagian besar warga Betawi penghuni asli Kemang sudah pindah ke selatan Jakarta, seperti Ciganjur, Jagakarsa, Depok dan Bogor. Pada 1998, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengubah peruntukan Kemang dari perumahan menjadi kawasan komersial.

Memasuki awal 2000, Bang Yos memperkuat keputusan ini dengan mengeluarkan peraturan yang menyatakan Kemang sebagai "kampung modern" melalui SK Gubernur DKI Nomor 144 Tahun 1999. Ini pun membawa lebih banyak kegiatan komersial ke Kemang, seperti rumah-rumah yang kemudian diubah menjadi toko ritel.

BACA JUGA: Cak Nun: Apakah Rasulullah Pernah Mengajarkan Tembang Tolak Bala?

Walaupun begitu, kurangnya perencanaan perkotaan telah mengakibatkan kemacetan di jalanan Kemang yang relatif sempit. Per tahun 2008, 73 persen lahan dan permukiman di Kemang berubah fungsi menjadi lahan komersial. Terletak di antara dua aliran Sungai Krukut dan Sungai Mampang, tanpa ada pengendalian banjir, Kemang pun rawan banjir setiap musim hujan.

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image