Sejarah Kampung Akuarium yang Tanahnya Dibawa Anies ke IKN

Sejarah  
Kampung Susun Akuarium. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan membawa tanah dari Kampung Akuarium, Jakarta Utara untuk disatukan dengan tanah di 33 provinsi lainnya di Ibu Kota Nusantara (IKN). Foto: Republika.
Kampung Susun Akuarium. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan membawa tanah dari Kampung Akuarium, Jakarta Utara untuk disatukan dengan tanah di 33 provinsi lainnya di Ibu Kota Nusantara (IKN). Foto: Republika.

KURUSETRA -- Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memilih membawa tanah dari Kampung Akuarium, Jakarta Utara, ke Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk dikumpulkan bersama tanah dari 34 provinsi. Anies menjelaskan tanah dari Kampung Akuarium menjadi harapan baru bagi kebahagiaan dan kemajuan seluruh rakyat.

"Tanah dari Kampung Akuarium menghadirkan harapan bahwa pembangunan kota baru yang akan dijadikan ibu kota ini hendaknya tidak memarjinalkan rakyat kecil dan justru nyata-nyata akan memberikan kemajuan dan kebahagiaan bagi semua, khususnya rakyat kebanyakan," kata Anies dalam akun media sosialnya.

Ibu-ibu dari Kampung Akuarium sedang memasukan tanah ke dalam besek untuk dibawa Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Foto: Tangkapan Layar.
Ibu-ibu dari Kampung Akuarium sedang memasukan tanah ke dalam besek untuk dibawa Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Foto: Tangkapan Layar.

BACA JUGA: Humor Gus Dur: Seorang Bapak Ingin Bil Barokah dari Kiai, Ternyata Minta Putrinya Dinikahi

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Alasan Anies membawa tanah dari Kampung Akuarium pun menjadi multitafsir. Sejumlah pihak menyebut Anies sedang menyindir Jokowi yang saat menjadi gubernur DKI tidak bisa menyelesaikan janjinya di Kampung Akuarium.

Terlepas dari itu, Kampung Akuarium memiliki riwayat panjang di Jakarta. Berada di wilayah Penjaringan, Jakarta Utara, kampung ini seolah hidup dari mati suri setelah Anies memutuskan membangun kembali perkampungan padat penduduk tersebut.

BACA JUGA: Humor Gus Dur: Ormas Gak Jadi Bubarkan Pengajian Gus Dur karena Takut Kualat

Meski dikritik DPRD, Anies melanjutkan membangun Kampung Susun Akuarium yang merupakan bagian dari penataan 21 kampung prioritas sesuai Keputusan Gubernur Nomor 878 tahun 2018 tentang Gugus Tugas Pelaksanaan Penataan Kampung dan Masyarakat. Di atas tanah seluas 10.300 meter persegi kini berdiri Kampung Susun dengan total 241 unit hunian.

Sebelum dikenal sebagai perkampungan kumuh dan padat penduduk, Kampung Akuarium di zaman Kolonial adalah laboratorium. Sebuah laboratorium Belanda semi permanen pernah dibangun pada 1905 di utara Pasar Ikan (kini Kampung Akuarium) yang digunakan untuk penelitian laut atau sekarang dikenal sebagai Oseanografi dan merupakan bagian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

BACA JUGA: Humor Gus Dur: Negara Anda Aneh, Hukumnya tidak Berjalan Tapi Mengangkat Menteri Kehakiman

"Lahan tersebut yang kemudian menjadi pemukiman penduduk dan dikenal sebagai Kampung Akuarium," tulis keterangan dalam Instagram @dkijakarta, Sabtu (15/8/2020).

Cerita Kampung Akuarium dimulai dari Dr. J. C. Koningsberger yang menjabat sebagai kepala Laboratorium Zoologi Pertanian bagian dari Kebun Raya Bogor milik pemerintah kolonial Hindia-Belanda, pada 10 Januari 1898 tertarik meneliti fauna darat dan fauna laut. Berdasarkan catatan Oseanografi LIPI, ia pun mendirikan laboratorium penelitian fauna laut di atas tanah di sebelah utara Pasar Ikan.

BACA JUGA: Humor Gus Dur: Di Pesantren Santri Dilarang Merokok, Kalau Kiai Boleh

Bentuk gedung laboratorium semi-permanen itu dibangun sangat singkat hanya satu tahun, dimulai pada 1904 dan selesai 1905. Bangunan itu disebut Visscherij Laboratorium te Batavia atau Laboratorium Perikanan di Batavia yang dalam perkembangannya lebih dikenal Visscherij Station te Batavia atau Stasiun Perikanan Batavia. Namun pada 1922 laboratorium dibangun secara permanen.

Setelah itu dibangun sebuah gedung akuarium air laut yang besar yang dibuka untuk masyarakat umum pada 12 Desember 1923, sebagai akuarium pertama di Indonesia dan di kawasan Asia Tenggara. Hingga 1960-an, lokasi ini menjadi tujuan wisata warga Jakarta.

BACA JUGA: Waktu Neil Armstrong Mendarat di Bulan, Dia Melihat Ada Rumah Makan Padang!

Namun akhirnya laboratorium kelautan dipindahkan ke kawasan Ancol yang sekarang menjadi Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Sedangkan lahan bekas laboratorium dijadikan permukiman penduduk yang dikenal dengan sebutan Kampung Akuarium.

JANGAN LEWATKAN ARTIKEL MENARIK LAINNYA:
> Setelah Wayang, Kini Nasi Padang yang Diharamkan
> Sujiwo Tejo: Babi Saja Buatan Tuhan Diharamkan, Apalagi Wayang Buatan Manusia

> Humor Gus Dur: Ormas Gak Jadi Bubarkan Pengajian Gus Dur karena Takut Kualat > Gus Baha: Sunan Giri Sebut Wayang Haram, Sunan Kudus Bilang Digepengkan Biar Halal
> Viral Pernikahan Beda Agama di Semarang, Mempelai Wanita Berhijab Ikut Pemberkatan di Gereja

TONTON VIDEO PILIHAN UNTUK ANDA:

.

Ikuti informasi penting seputar berita terkini, cerita mitos dan legenda, sejarah dan budaya, hingga cerita humor dari KURUSETRA. Kirim saran dan kritik Anda ke email kami: kurusetra.republika@gmail.com. Jangan lupa follow juga Youtube, Instagram, Twitter, dan Facebook KURUSETRA.

Berita Terkait

Image

VIDEO: Anies Baswedan Sindir Nyanyian Giring Ganesha PSI

Image

Sindir Giring PSI, Anies: Mas Jangan Nyanyi di Sini, Berisik

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Seperti Cinta, Kisah Sejarah Juga Perlu Diceritakan

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image