Pejabat Belanda dan Kapitan China Jadi Crazy Rich karena Paksa Rakyat Bayar Pajak

Sejarah  
Gubernur Jenderal VOC JP Coen punya kelihaian dalam memungut pajak. JP Coen memerintahkan Kapitan China, Souw Beng Kong memungut pajak kepala dan rumah pelacuran kepada warga China di Batavia. Foto: IST.
Gubernur Jenderal VOC JP Coen punya kelihaian dalam memungut pajak. JP Coen memerintahkan Kapitan China, Souw Beng Kong memungut pajak kepala dan rumah pelacuran kepada warga China di Batavia. Foto: IST.

CERITA ABAH: Artikel ini adalah warisan berupa tuturan dari sejarawan sekaligus wartawan senior (Almarhum) Alwi Shahab kepada kami dan kami tulis ulang. Selamat Menikmati.

KURUSETRA -- Salam Sedulur... Istilah Crazy Rich yang diartikan sebagai orang kaya alias tajir mulai familiar Sedulur dengar. Padahal jauh sebelum kemerdekaan, sejumlah bangsawan Eropa dan para kapiten China yang "numpang hidup" di Batavia memiliki kekayaan jauh lebih banyak. Salah satu sumber kekayaan para crazy rich di era tersebut adalah dari pungutan pajak.

Gubernur Jenderal VOC JP Coen punya kelihaian dalam memungut pajak. Begitu dia mengangkat Souw Beng Kong sebagai Kapitan China, ia pun mengeluarkan peraturan pada 9 Oktober 1619: Tiap orang China yang berumur antara 16 sampai 60 tahun wajib membayar pajak sebesar 1,5 reak per kepala. Tidak main-main. Pajak yang cukup memberatkan itu berlaku 200 tahun, sampai 1900.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

BACA JUGA: Benarkah Yaman Negeri Kadrun dan Imigrannya Datang untuk Rusak Indonesia?

Ketika daratan China dikuasai oleh dinasti Mancu, adat istiadat dari negara di bagian utara Korea ini ditularkan kepada negara jajahannya. Maka rakyat China mengikuti jejak penjajah.

Rambut bagian atas dicukur sampai licin, dan bagian belakang dipanjangkan kemudian dikepang atawa dikuncir seperti layaknya wanita. Selain disibukkan urusan melicinkan kepala bagian atas yang cepat tumbuh seperti layaknya kita mencukur jenggot, tiap kepala juga dikenai pajak.

BACA JUGA: Apa Kira-Kira Pendapat Gus Dur Soal LGBT

Bukan hanya pajak kepala. Belanda menyadari kesukaan warga China pada judi dan hampir dilakukan di tiap acara, termasuk saat kematian di kalangan keluarga. Belanda juga mengagumi kesenangan mereka akan seks. Maka diberlakukanlah pajak judi dan pajak rumah pelacuran (suhian).

Berita Terkait

Image

Kereta Nyebur ke Sawah karena Tubruk Kerbau di Ancol, Ulah Si Manis?

Image

Shalat di Masjid Istiqlal, Mabuk di Restoran Bioskop Capitol

Image

Sejarah Oplet Antik Si Doel yang Harganya Tembus Rp 15 Miliar

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image